Rabu, 13 November 2019


PERJALANAN UNTUK NYEPUT


            Hy, balik lagi sama saya, setelah kemarin saya menulis tentang perjalanan saya dalam mencari naskah kuno, sekarang saya akan menceritakan bagaimana perjalanan untuk melakukan Nyeput, apa itu Nyeput ? Nyeput adalah salah satu tradisi yang ada di suku sasak LOMBOK, di mana dalam kegiatan Nyeput orang akan menunjuk salah satu tulisan pada naskah kuno yang kemudian akan dibacakan oleh pemuka adat yang memimpin kegiatan tersebut dan diartikan, dimana apa yang diartikan tersebut dipercayai sebagai perjalan hidup yang akan kita lewati nantinya. Dalam perjalanan saya untuk melakukan kegiatan Nyeput tidaklah mudah, saya melakukan perjalanan Nyeput tiga kali di Loteng, dan tidak membuahkan hasil, perjalanan pertama, orang yang kita kunjungi tidak bissa melakukan kegiatan nyeput, perjalanan yang kedua sama dengan perjalanan pertama di mana, orang yang kita kunjungi tidak bisa melakukan Nyeput, dan untuk perjalanan ketiga, orang yang kami kunjungi bisa melakukan kegiatan nyeput, tapi sayang waktu kami pergi ke Loteng, tepat pada waktu pemadaman lampu yang dilakukan sekabupaten Lombok Tengah. sampai perjalanan yang keepat baru saya bisa melakukan kegiatan Nyeput. kegiatan Nyeput dilakukan di Kabupaten Lombok Tengah, dengan Narasumber Bapak Zakaria. dalam melakukan kegiatan Nyeput tersebut, saya melakukan tiga kali penunjukan, yang pertama saya mendapatkan tulisan yang kalau diartikan berbunyi “anda adalah orang yang suka membuat orang lain tertawa”. untuk yang kedua saya mendapatkan tulisan yang kalau diartikan berbunyi “rajinlah sembahyang/sholat” dan yang terakhir saya mendapatkan tulisan yang kalau diartikan berbunyi “kemanapun engkau pergi kau tetap akan kembali”.

            Untuk mengkaji makna kalimat tersebut, saya menggunakan metode pendekatan Semantik dan Pragmatik, di mana pada kalimat pertama dan kedua saya menggunakan pendekatan semantik, atau makna yang sebenarnya, pada kalimat pertama merunjuk pada perilaku saya yang selalu ingin membuat orang lain untuk tertawa, pada kalimat kedua juga sama, memiliki makna yang sebenarnya, di mana dalam kalimat tersebut menyuruh saya untuk rajin sembahyan/sholat yang mungkin jarang saya kerjakan. Dan untuk kalimat ketiga, saya menggunakan pendekatan Pragmatik, di mana pada kalimat ini untuk menarik maknanya harus disesuaikan dengan konteks yang ada dalam pikiran saya, di sini saya memaknai kelimat ketiga dengan makna, bahwa “sejauh-jauhnya orang pergi/tersesat dia akan tetap kembali pada jalan yang diyakininya benar”. Mungkin segini saja tulisan saya hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. jangan lupa koman yah teman-temannn.