Rabu, 23 Oktober 2019


CERITA PERJALANAN MENCARI NASKAH KUNO

Hai nama saya Fian Farhan biasa di panggil Fian, disini saya akan menceritan perjalanan saya dalam rangka mencari naskah kuno dalam perjalanan menari naskah kuno, kami melakukan dua kali perjalanan, yang pertama kami pergi mencari di desa Motong Gamang Lombok Tengah untuk perjalanan pencarian naskah pertama kami pergi pada tgl 20 oktober 2019. star jam 09.00 pagi di Mataram dan sampai di desa Motong Gamang Lombok Tengah jam 12.00, perjalanannya lama karna rute yang kani ambil salah, sehingga kami melalakukan perjalanan cukup lama di banding biasanya, sesampai di sana kami istirahat di rumah teman sekitar 2 jam, setelah kami pergi ke rumah orang yang mempunyai naskah, tapi sayangnya ternyata naskah yang orang punya tersebut sudah hilang. karena apa yang kami cari tidak ada, kami untuk memutuskan untuk pulang kembali ke mataram, star jam 15.40 samapai mataram sekitar jam 18.20. pada 23 oktober 2019, kami pergi mencari naskah setelah pulang kuliah, sekitar jam 15.40 di desa Kuranji Dalah Kec. Labu Api Kab. Lombok Barat kami pergi ke rumah bpk. adji. untuk mencari naskah yang berjudul “Takepan Monyeh”





TAKEPAN MONYEH
KISAH TIGA BERSAUDARA

            Pada jaman dahulu ada 3 bersaudara yang sama-sama menguasai  kerajaan Jawa, Sumbawa dan Lombok, mereka sama-sama menguasai kerajaannya masing-masing, yang di Jawa memiliki 2 anak laki-laki, di Sumbawa memiliki 2 anak, cewe dan cowok dan yang di Lombok memiliki 9 anak cewe semua. yang di Lombok  yang paling disayang oleh Raja hanya 8 anak dan anak bungsu yang bernama Dwi Wenengsie tidak dihiraukan, saking menderitanya Dwi Wenengsie jarang dikasih makan, mungkin dia makan satu kali 1 minggu itupun dikasih sama pembantunya yang berada di Pondok, siang malam dia menangis, karna kesedihannya tiap malam dia tambang sambil menangis, ia selalu bertanya mengapa kakak sama Raja selalu membencinya, dia meminta kertas kepada pembantu untuk menulis cerita, menggambar dan menulis riwayat dirinya sendiri, setelah ia selesai menulis, ia menggulung kertas itu, tiba-tiba datanglah angina topan dan membawa kertas-kertas itu sampai ke tanah Jawa, dan jatuh ke tempat pemandian misannya yang ada di Jawa. ketika pangeran pergi mandi ia melihat gambar Dwi Wenengsie yang sangkut di tempat pemandiannya. pangeran yang bernama Raden Witaresari membuka dan membaca kertas itu, setelah melihat itu Raden Witaresari terkejut sampai pingsan setelah melihat kisah yang ditulis oleh misannya, setelah ia tersadar ia menangis, ia menunjukan kertas itu kepada kakanya yang bernama Kitap Munjar, setelah melihat itu kakaknya juga ikut menangis dan pergi untuk menemui Dwi Wenengsie di tanah Lombok menggunakan perahu, sesampai di Lombok dia tersesat di hutan belangkara, di sana ia mendapatkan tiga benda pusaka yaitu peci, baju, dan cambuk. peci memiliki fungsi untuk menghilang, baju berfungsi bisa mebuat orang menjadi monyet, dan cambuk mampu membelah lautan, dia kembali ke tanah jawa dan memberikan tiga benda pusaka itu kepada adiknya, setelah itu adeknya menggunakan peci, baju dan cambut dan pergi tanah Lombok untuk menemui Dwi Wenengsie, setelah ia melihat paras kecantikan dari putri Dwi Lenengsia, Raden Witaresari jatuh cinta dan menikahi Dwi Lenengsie dan menjadi Raja di Lombok menggantikan mertuanya.