PERJALANAN UNTUK NYEPUT
Hy,
balik lagi sama saya, setelah kemarin saya menulis tentang perjalanan saya
dalam mencari naskah kuno, sekarang saya akan menceritakan bagaimana perjalanan
untuk melakukan Nyeput, apa itu Nyeput ? Nyeput adalah salah satu tradisi yang
ada di suku sasak LOMBOK, di mana dalam kegiatan Nyeput orang akan menunjuk
salah satu tulisan pada naskah kuno yang kemudian akan dibacakan oleh pemuka
adat yang memimpin kegiatan tersebut dan diartikan, dimana apa yang diartikan
tersebut dipercayai sebagai perjalan hidup yang akan kita lewati nantinya. Dalam
perjalanan saya untuk melakukan kegiatan Nyeput tidaklah mudah, saya melakukan
perjalanan Nyeput tiga kali di Loteng, dan tidak membuahkan hasil, perjalanan
pertama, orang yang kita kunjungi tidak bissa melakukan kegiatan nyeput,
perjalanan yang kedua sama dengan perjalanan pertama di mana, orang yang kita
kunjungi tidak bisa melakukan Nyeput, dan untuk perjalanan ketiga, orang yang
kami kunjungi bisa melakukan kegiatan nyeput, tapi sayang waktu kami pergi ke
Loteng, tepat pada waktu pemadaman lampu yang dilakukan sekabupaten Lombok
Tengah. sampai perjalanan yang keepat baru saya bisa melakukan kegiatan Nyeput.
kegiatan Nyeput dilakukan di Kabupaten Lombok Tengah, dengan Narasumber Bapak
Zakaria. dalam melakukan kegiatan Nyeput tersebut, saya melakukan tiga kali
penunjukan, yang pertama saya mendapatkan tulisan yang kalau diartikan berbunyi
“anda adalah orang yang suka membuat
orang lain tertawa”. untuk yang kedua saya mendapatkan tulisan yang kalau
diartikan berbunyi “rajinlah
sembahyang/sholat” dan yang terakhir saya mendapatkan tulisan yang kalau
diartikan berbunyi “kemanapun engkau
pergi kau tetap akan kembali”.
Untuk
mengkaji makna kalimat tersebut, saya menggunakan metode pendekatan Semantik
dan Pragmatik, di mana pada kalimat pertama dan kedua saya menggunakan
pendekatan semantik, atau makna yang sebenarnya, pada kalimat pertama merunjuk
pada perilaku saya yang selalu ingin membuat orang lain untuk tertawa, pada
kalimat kedua juga sama, memiliki makna yang sebenarnya, di mana dalam kalimat
tersebut menyuruh saya untuk rajin sembahyan/sholat yang mungkin jarang saya
kerjakan. Dan untuk kalimat ketiga, saya menggunakan pendekatan Pragmatik, di
mana pada kalimat ini untuk menarik maknanya harus disesuaikan dengan konteks
yang ada dalam pikiran saya, di sini saya memaknai kelimat ketiga dengan makna,
bahwa “sejauh-jauhnya orang pergi/tersesat dia akan tetap kembali pada jalan
yang diyakininya benar”. Mungkin segini saja tulisan saya hari ini, semoga
bermanfaat bagi kita semua. jangan lupa koman yah teman-temannn.



